Ketika Jalan Menjadi Medan Pergulatan: Renungan Filosofis tentang Ruang Publik, Keadilan, dan Empati

Konflik horizontal antara pengemudi daring dan mahasiswa di ruang kota bukan sekadar bentrokan fisik, melainkan cermin retaknya komunikasi sosial dan rapuhnya ruang publik. Sebuah renungan filosofis tentang perebutan ruang, solidaritas, dan harapan akan mediasi yang membangun.

Baca 6 menit
Ketika Jalan Menjadi Medan Pergulatan: Renungan Filosofis tentang Ruang Publik, Keadilan, dan Empati

Pendahuluan: Jalan sebagai Arena Kehidupan

Jalan raya bukan sekadar aspal yang menghubungkan titik A ke titik B. Ia adalah panggung tempat berbagai kepentingan manusia bertemu, berbenturan, dan kadang saling melukai. Ketika sekelompok mahasiswa turun ke jalan untuk menyuarakan keadilan, dan di saat yang sama seorang pengemudi ojek daring melintas demi mengejar target harian, apa yang terjadi bukanlah sekadar perselisihan lalu lintas. Ada sesuatu yang lebih fundamental: pertanyaan tentang siapa yang berhak atas ruang publik, dan seberapa jauh kita bersedia memahami beban orang lain.

Fenomena gesekan fisik antara pengemudi ojek daring dan kelompok mahasiswa di kawasan perkotaan, sebagaimana diulas dalam tulisan Pelajaran Pahit dari Bentrok UNM yang Mengubah Wajah Kampus, mengundang kita untuk merenung lebih dalam. Insiden kekerasan di lingkungan kampus tersebut menjadi cermin retaknya komunikasi sosial serta rapuhnya ruang publik saat dua kelompok warga beririsan di koridor jalan yang sama. Mari kita telusuri makna di balik peristiwa ini, bukan untuk menghakimi, melainkan untuk memahami dan mencari jalan keluar yang mencerahkan.

Daftar Isi

Friksi Kepentingan di Jalur yang Sama

Konflik horizontal di kawasan perkotaan kerap meletup ketika dua kelompok dengan kepentingan mendesak saling berbenturan di ruas jalan arteri yang terbatas. Dalam filsafat sosial, situasi ini mengingatkan kita pada konsep competition for scarce resources — persaingan memperebutkan sumber daya yang langka. Jalan menjadi simbol dari ruang publik yang semakin sempit, sementara kebutuhan setiap kelompok akan ruang itu semakin besar.

Di satu sisi, mahasiswa menggunakan badan jalan sebagai ruang artikulasi politik. Aksi unjuk rasa memanfaatkan jalur untuk menarik perhatian publik dan menekan pembuat kebijakan. Pembatasan akses jalur diposisikan sebagai instrumen unjuk kekuatan simbolik di ruang terbuka. Bagi mereka, jalan adalah panggung demokrasi, tempat suara rakyat bergema.

Di sisi lain, pengemudi ojek daring bekerja di bawah kendali algoritma yang menuntut ketepatan waktu tempuh, efisiensi rute, dan pemenuhan target harian. Terhambatnya akses jalan langsung memotong pendapatan riil serta berisiko mendatangkan penalti performa dari sistem aplikasi. Bagi mereka, jalan adalah sumber nafkah, tempat kehidupan sehari-hari dipertaruhkan.

Ketika dua desakan ini bertemu tanpa mediasi seketika, gesekan kecil di garis depan unjuk rasa dengan cepat menyulut eskalasi fisik. Adu argumen saat melintasi barisan demonstrasi dapat segera berujung pada perusakan properti dan benturan massal antarkelompok. Di titik ini, kita diingatkan bahwa ketiadaan dialog dan empati dapat mengubah perbedaan menjadi permusuhan.

Solidaritas Mekanis dan Kecepatan Mobilisasi Algoritmik

Ciri paling kentara dari dinamika pekerja sektor ekonomi gig adalah kecepatan konsolidasi massanya. Jaringan grup pesan instan yang sehari-hari berfungsi sebagai bantalan perlindungan mandiri untuk berbagi rute atau informasi darurat dapat berubah seketika menjadi kanal mobilisasi fisik. Fenomena ini menggambarkan apa yang disebut Émile Durkheim sebagai solidaritas mekanis: kerugian yang dialami satu anggota dipandang sebagai ancaman langsung terhadap martabat seluruh paguyuban.

Dalam solidaritas mekanis, ikatan sosial terbentuk karena kesamaan peran dan pengalaman, bukan karena pembagian kerja yang kompleks. Ketika satu pengemudi merasa dizalimi, seluruh komunitas merasakan hal yang sama. Ratusan pengemudi dapat bergerak mendatangi titik lokasi dalam waktu singkat, melampaui kemampuan negosiasi lapangan maupun pengendalian awal aparat setempat.

Penyebaran cuplikan video pendek tanpa konteks utuh di media sosial mempercepat proses ini. Video viral ibarat percikan api di padang rumput kering. Ia memantik emosi, mengaburkan fakta, dan mendorong tindakan kolektif yang kadang tidak lagi terkendali. Di era digital, solidaritas mekanis tidak hanya bekerja secara tatap muka, tetapi juga melalui layar-layar yang menyala.

Filsuf Prancis, Gabriel Tarde, pernah berbicara tentang imitation atau peniruan sebagai hukum dasar masyarakat. Dalam konteks ini, tindakan satu individu dapat dengan cepat ditiru oleh banyak orang, terutama ketika didorong oleh narasi yang menggugah emosi. Namun, peniruan juga bisa diarahkan pada hal-hal positif: meniru tindakan mediasi, meniru sikap menahan diri, dan meniru upaya mencari solusi bersama.

Refleksi: Menghindari Jebakan Konflik Antar-Warga

Tragedi dari bentrokan horizontal ini adalah hilangnya empati antara dua kelompok yang sebenarnya memikul beban ketidakpastian struktural yang serupa. Mahasiswa turun ke jalan menyuarakan keadilan kebijakan publik, sementara mitra ojol berjuang menjaga kepastian nafkah harian. Keduanya adalah korban dari sistem yang belum sepenuhnya adil, namun sayangnya mereka saling melukai.

Dalam khazanah filsafat, kita mengenal konsep ubuntu dari Afrika Selatan: "Aku ada karena kita ada." Kesadaran bahwa kemanusiaan kita terikat satu sama lain seharusnya menjadi landasan dalam setiap interaksi sosial. Jika mahasiswa dan pengemudi ojek daring menyadari bahwa mereka berjuang untuk hal yang sama — keadilan dan kesejahteraan — maka permusuhan bisa digantikan dengan solidaritas.

Pencegahan peristiwa serupa di masa depan menuntut langkah konkret yang tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga kultural dan struktural:

  • Pengawalan Koridor Lalu Lintas: Pengendali aksi mahasiswa wajib memastikan adanya akses perlintasan bagi masyarakat pekerja agar demonstrasi tidak mengorbankan mobilitas warga rentan. Ini adalah wujud tanggung jawab moral terhadap sesama.
  • Verifikasi Internal Komunitas: Pimpinan komunitas ojek daring perlu membangun mekanisme penyaringan informasi internal guna meredam ajakan aksi balas dendam yang dipicu video viral sepihak. Literasi digital dan kontrol emosi menjadi kunci.
  • Mediasi Formal Multi-Pihak: Otoritas kampus bersama kepolisian setempat perlu membuka forum komunikasi berkala bersama serikat pekerja transportasi untuk menyelesaikan insiden lapangan secara musyawarah sebelum bereskalasi menjadi kericuhan luas. Dialog adalah jembatan yang harus dibangun.

Langkah-langkah ini bukan sekadar solusi praktis, melainkan cerminan dari etika komunikasi yang menghargai keberadaan pihak lain. Filsuf Jürgen Habermas menekankan pentingnya communicative action — tindakan komunikatif yang berorientasi pada saling pengertian, bukan sekadar mencapai tujuan sepihak. Dalam ruang publik yang sehat, setiap suara didengar, dan setiap kepentingan dipertimbangkan.

Menuju Ruang Publik yang Lebih Manusiawi

Konflik di jalanan bukanlah akhir dari segalanya. Ia adalah panggilan untuk bangkit, untuk belajar, dan untuk memperbaiki cara kita hidup bersama. Setiap benturan menyimpan pelajaran berharga: bahwa kemajuan tidak bisa diraih dengan mengorbankan sesama, dan bahwa keadilan sejati hanya bisa diwujudkan melalui kerja sama, bukan permusuhan.

Mari kita bayangkan kota di mana mahasiswa dan pengemudi ojek daring saling memahami. Di mana aksi unjuk rasa berjalan damai tanpa menghambat nafkah orang lain, dan di mana para pekerja sektor gig merasa dihargai. Ini bukan utopia. Ini adalah cita-cita yang bisa diwujudkan jika kita mau membuka hati dan pikiran.

Sebagai penutup, izinkan saya mengajak Anda merenung: ketika kita melihat orang lain sebagai ancaman, apakah kita sedang kehilangan kemanusiaan kita sendiri? Ketika kita memilih untuk mendengar sebelum menuduh, dan memahami sebelum menyerang, kita sedang menanam benih perdamaian. Ruang publik yang retak bisa disembuhkan, asalkan kita bersedia menjadi perekatnya.

Mari mulai dari diri sendiri, dari percakapan kecil, dari empati yang tumbuh. Karena pada akhirnya, jalan yang kita lalui bersama akan menjadi lebih lapang jika kita berjalan berdampingan, bukan saling mendahului.

Call to Action: Bagikan refleksi ini kepada teman-teman Anda, dan mulailah membangun dialog di komunitas Anda. Perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil yang penuh kesadaran.

Referensi

Sumber / Referensi

Daftar Pustaka

Berikut adalah daftar referensi yang digunakan sebagai sumber informasi dan rujukan terverifikasi dalam penulisan artikel ini.

1
OFFICIAL

Infojakarta (2026). ketegangan yang berujung pada perusakan fasilitas kampus Universitas Negeri Makassar (UNM). Infojakarta.

https://infojakarta.blog/artikel/dari-aksi-damai-ke-ricuh-massal-pelajaran-pahit-dari-bentrok-unm-yang-mengubah-wajah-kampus

Catatan: Daftar pustaka disusun sesuai kaidah penulisan rujukan terverifikasi guna menjamin akurasi, transparansi, dan integritas data jurnalistik Kabar Jabodetabek.

Komentar

Rekomendasi Artikel Lainnya

Lihat Semua Artikel
JARINGAN

Jaringan Media

Bagian dari ekosistem Kabarify yang menghadirkan informasi terpercaya dari berbagai perspektif dan topik untuk Anda.

IJInfoJakarta

InfoJakarta

LAYANAN & KABAR IBU KOTA

Rangkuman kabar dan layanan publik ibu kota.

Kunjungi Situs
JHJakartaHarian

JakartaHarian

PORTAL BERITA HARIAN

Portal berita harian dengan informasi terkini seputar Jakarta dan sekitarnya.

Kunjungi Situs
KKenalJakarta

KenalJakarta

MENGENAL JAKARTA

Mengenal Jakarta lebih dekat melalui sejarah, budaya, dan perkembangan kota.

Kunjungi Situs
JTJabodetabekTerkini

JabodetabekTerkini

INFORMASI TERKINI

Informasi terkini seputar Jabodetabek dalam berbagai bidang dan peristiwa.

Kunjungi Situs
LTLensaJabodetabek

LensaJabodetabek

BERITA & LIPUTAN MENDALAM

Berita dan liputan mendalam dengan sudut pandang berbeda dan akurat.

Kunjungi Situs