PeristiwaNasional

Mengurai Benang Kusut Kebijakan Hemat Energi: Antara WFH dan Solusi Sistemik yang Terlupakan

Kritik Ratna Juwita terhadap WFH sebagai solusi tunggal hemat energi membuka diskusi tentang perlunya pendekatan sistemik dan berkeadilan. Apa saja yang terlewat?

Penulis:adit
29 Maret 2026
Mengurai Benang Kusut Kebijakan Hemat Energi: Antara WFH dan Solusi Sistemik yang Terlupakan

Bayangkan sebuah kota besar di pagi hari. Biasanya, jalanan dipadati kendaraan bermotor yang mengantarkan para pekerja ke kantor. Lalu, tiba-tiba, sebuah kebijakan work from home (WFH) diberlakukan. Jalanan sepi, polusi berkurang, dan tagihan listrik gedung perkantoran turun drastis. Skenario yang indah, bukan? Tapi, apakah gambaran ini sudah lengkap? Atau jangan-jangan, kita hanya memindahkan masalah dari satu tempat ke tempat lain, sementara akar persoalan energi nasional tetap tak tersentuh?

Inilah yang coba diingatkan oleh Anggota Komisi XII DPR, Ratna Juwita Sari. Dalam sebuah pernyataannya, ia menegaskan bahwa menjadikan WFH sebagai senjata pamungkas untuk program penghematan energi yang rencananya dimulai April mendatang adalah langkah yang terlalu simplistis. Menurutnya, pendekatan ini bagaikan mengobati demam dengan kompres dingin—gejalanya mungkin mereda, tetapi penyakitnya belum tentu sembuh. Perspektif ini menarik karena membawa kita keluar dari narasi populer yang seringkali memuja WFH sebagai solusi serba bisa.

Melihat Lebih Dalam: Dampak Domino di Balik Kebijakan Instan

Ratna Juwita bukan serta-merta menolak WFH. Poin kritisnya terletak pada penyederhanaan masalah yang kompleks. "WFH bukan solusi tunggal," tegasnya. Ia khawatir, fokus yang berlebihan pada pola kerja aparatur sipil negara (ASN) justru mengalihkan perhatian dari sektor-sektor raksasa yang sebenarnya menyumbang konsumsi energi jauh lebih besar. Pikirkan saja: industri manufaktur, pembangkit listrik yang belum efisien, gedung-gedung pemerintah yang boros energi, dan sistem transportasi publik yang masih bergantung pada bahan bakar fosil.

Ada sebuah data menarik yang sering luput dari perbincangan. Menurut kajian Institute for Essential Services Reform (IESR) pada 2023, sektor industri dan komersial menyumbang lebih dari 50% konsumsi listrik nasional. Sementara, sektor rumah tangga—tempat para ASN bekerja saat WFH—menyumbang sekitar 35-40%. Artinya, meskipun seluruh ASN di Indonesia bekerja dari rumah, penghematan energi yang dihasilkan mungkin tidak akan sebesar yang dibayangkan jika sektor industri dan komersial tetap boros. Belum lagi, WFH berpotensi memindahkan beban biaya listrik dari negara ke pundak pegawai itu sendiri, yang bisa jadi justru meningkatkan pengeluaran rumah tangga mereka.

Konsekuensi Sosial-Ekonomi yang Sering Terabaikan

Kebijakan hemat energi yang hanya mengandalkan WFH juga membawa serta sederet konsekuensi yang perlu dipertimbangkan matang-matang. Bagaimana dengan produktivitas kerja di sektor-sektor yang membutuhkan interaksi langsung? Bagaimana dengan kualitas layanan publik yang mungkin menurun karena keterbatasan koordinasi? Dan yang tak kalah penting, bagaimana dengan sektor ekonomi pendukung perkantoran, seperti warung makan, tempat fotokopi, dan jasa transportasi yang menggantungkan hidupnya pada aktivitas harian para pekerja?

Ratna menawarkan perspektif yang lebih konstruktif. Alih-alih kebijakan yang bersifat simbolik dan jangka pendek, ia mendorong pemerintah untuk membangun kerangka kerja yang sistemik. Langkah pertama yang ia usulkan adalah melakukan audit energi nasional secara menyeluruh. "Hemat energi harus berbasis data," ujarnya. Dengan peta konsumsi energi yang akurat, intervensi bisa dilakukan tepat sasaran, dimulai dari sektor-sektor dengan kebocoran energi terbesar.

Membangun Solusi yang Berkelanjutan, Bukan Sekadar Reaksi

Lalu, seperti apa solusi sistemik yang dimaksud? Ratna merinci beberapa poin kunci yang menurutnya jauh lebih berdampak dalam jangka panjang. Pertama, perbaikan manajemen energi di gedung-gedung pemerintah dan fasilitas publik. Banyak gedung di Indonesia masih menggunakan teknologi lama yang tidak efisien. Kedua, mendorong program efisiensi energi di sektor industri, mungkin melalui insentif bagi perusahaan yang berhasil menurunkan intensitas energinya. Ketiga, mengoptimalkan dan memperkuat transportasi massal. Bayangkan jika sistem transportasi publik kita nyaman, tepat waktu, dan terjangkau, maka ketergantungan pada kendaraan pribadi—dan konsumsi BBM—bisa ditekan secara signifikan.

Yang tak kalah penting adalah percepatan transisi menuju energi terbarukan. Kebijakan hemat energi seharusnya tidak hanya tentang "mengurangi pemakaian", tetapi juga tentang "mengganti sumbernya" dengan yang lebih bersih dan berkelanjutan. Ini adalah momentum untuk membangun ketahanan energi nasional, mengurangi ketergantungan pada impor BBM dan batubara, sekaligus berkontribusi pada komitmen global menurunkan emisi karbon.

Refleksi Akhir: Hemat Energi sebagai Gerakan Kolektif

Pada akhirnya, pesan dari Ratna Juwita ini mengajak kita semua—pemerintah, legislatif, pelaku industri, dan masyarakat—untuk berpikir lebih jernih. Hemat energi bukanlah proyek instan yang bisa diselesaikan dengan satu kebijakan populis. Ia adalah sebuah transformasi besar yang membutuhkan perencanaan matang, komitmen politik yang kuat, dan partisipasi aktif dari semua pihak.

Mungkin kita perlu bertanya pada diri sendiri: Sudah siapkah kita meninggalkan pendekatan tambal sulam dan mulai membangun sistem energi yang benar-benar tangguh untuk masa depan? WFH bisa menjadi salah satu bagian dari solusi, tetapi ia bukanlah jawaban akhir. Mari kita jadikan kritik konstruktif ini sebagai pemicu untuk merancang langkah-langkah yang lebih berani, lebih adil, dan benar-benar berdampak bagi keberlanjutan energi—dan kehidupan—di negeri ini. Bagaimana pendapat Anda? Apakah kita sudah berada di jalur yang tepat, atau justru terjebak dalam solusi-solusi semu yang hanya memuaskan untuk sementara?

Dipublikasikan: 29 Maret 2026, 08:56
Mengurai Benang Kusut Kebijakan Hemat Energi: Antara WFH dan Solusi Sistemik yang Terlupakan